Kampung Inggris di SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta

Pentingnya kemampuan berbahasa Inggris secara aktif mendorong SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta mencetuskan suatu program yang baru di tahun pelajaran 2019/2020. Terinspirari dari pembelajaran kampung Inggris yang ada di Pare, sekolah ingin membawa suasana pembelajaran tersebut di dalam lingkup kegiatan belajar mengajar di sekolah.

“Seperti yang diketahui bahwa di dalam pembelajaran bahasa, ada 4 skills yang harus selalu diasah dan dipertajam dengan cara berlatih, yakni listening, speaking, reading, writing. Kami berupaya untuk meningkatkan skill speaking di dalam kegiatan ini. Dengan berlatih secara rutin, peserta didik diharapkan terbiasa dan nantinya mampu untuk berbicara bahasa Inggris selama kegiatan berlangsung. Belajar bahasa Inggris pun menjadi aktif dan tidak pasif hanya belajar teks dan grammar saja.”  Kata Renaldo Gaspie, selaku pengampu mapel bahasa Inggris.

Kegiatan yang rutin dilaksanakan di hari Selasa ini ditujukan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam kemampuan berbasa Inggris secara lisan. Dengan tema menarik dan berbeda di setiap minggunya peserta didik diharapkan mampu mengenal beberapa ekspresi yang riil digunakan di percakapan sehari-hari oleh native speaker. Peserta didik kemudian dipecah menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompoknya terdiri dari 8 sampai 10 peserta didik yang diisi gabungan antara kelas Mipa dan IPS. Kemudian setiap kelompoknya akan mendapat bimbingan instruktur yang diambil dari mahasasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Di pertemuan Selasa, tanggal 21 Januari 2020, peserta didik diajarkan bagaimana menyatakan ekspresi gratitude atau ucapan terimakasih dan bagaimana cara menjawab apabila ada seseorang yang mengucapkannya. Kemudian mereka diminta untuk melakukan role play dengan berpasangan malalui dialog yang wajib mengandung ekspresi gratitude. Tidak hanya diajarkan bagaimana mengucapkan dan menjawab ekspresi gratitude, mereka juga dikenalkan tentang cultural awareness atau kebiasaan kultur bagaimana native speaker menggunakan ekspresi ini dalam percakapan sehari-hari.

Melalui kegiatan ini juga diharapkan agar peserta didik mampu meningkatkan kemampuan public speaking dan kepercayaan diri, dikarenakan mereka diarahkan untuk berbicara di depan peserta didik lainnya dengan metode menyenangkan yakni telling stories dan role-play.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *